Sparkle of The Two Princes Part 2

-Hai, cerita ini kelanjutan dari part pertama. Semoga bisa menikmati kisah Claryn selanjutnya.-

Advertisements

Part 2 – Claryn’s Dream

Hari senin diawali dengan rutinitas yang sangat padat yang membuat setiap karyawan di perusahaan kami super sibuk lantaran harus berhadapan dengan banyak pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan.

Sebagai seorang penulis magang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri media di Jakarta, aku bertanggung jawab untuk mengolah informasi berita yang nantinya akan tayang di website perusahaan.

Advertisements

Sebelum artikel naik ke atas layar, tentunya kami akan saling mendiskusikan dengan seluruh tim yang yang terlibat sampai mendapatkan persetujuan oleh atasanku, Editor Chief,  yang memiliki otoritas penuh dalam menentukan setiap artikel yang akan di publikasikan.

Untuk meeting hari ini, aku menyiapkan materi presentasi semalam suntuk. Beruntungnya aku diberitahu bahwa jadwal meeting akan diundur seusai jam makan siang, hal langka ini tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Dengan kesempatan yang langka ini, aku menggunakannya untuk menambahkan jam tidur lima belas menit lebih lama dari hari biasanya.

Alarm ponsel akan berbunyi sebentar lagi. Aku masih terbalutkan selimut tebal berwarna pink pastel dan tenggelam dalam mimpi malam yang indah.

Namun, lima belas menit yang tersisa digagalkan begitu saja ketika bunyi panggilan telepon yang memborbardir gendang telinga. Karena tidak tahan dengan suara yang semakin mengeras membuatku terpaksa terbangun dan kembali pada realita sebagai budak perusahaan.

Nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul bersatu dengan tubuh, memaksakan tanganku meraih ponsel yang diletakkan di meja kayu sebelah kanan tempat tidur. Tidak sempat melihat sang teror di pagi hari buta, jari-jari meraba dan menekan layar icon hijau, yang artinya terhubung ke sambungan telepon.

Claryn!!!” Seseorang memanggil namaku dari seberang sana, sontak jantungku nyaris berhenti.

Aku mengatur diagfragma pernapasan pelan-pelan. Lalu, memastikan suaraku tidak terdengar serak sehabis bangun tidur. “Hallo, pak. Ada yang bisa saya bantu, pak?”

Baca Juga:  Sparkle of The Two Princes - Part 1

Sesekali mataku mengintip jam dinding yang masih menujukkan jam setengah lima pagi. Jantungku semakin berdegup kencang setelah menyadari pemilik suara yang menggelegar di telinga kanan.

Aku menenangkan diri yang masih harap cemas, tapi memaksakan diri untuk tetap fokus dengan apa yang dibicarakan oleh Pak Edwin, atasanku, yang telah menjadi pimpinanku selama kurang lebih setahun.

Bukan pak Edwin namanya kalau tidak membuat gugup bawahannya. Dia akan selalu menggentayangi kami soal pekerjaan.

‘Hari ini kamu ikut saya meeting bersama seluruh tim redaksi.’

‘Sebelumnya, maaf, pak. Kalau saya boleh minta kejelasan, memangnya meeting apa ya, pak? Karena jadwal saya hari ini hanya meeting bersama tim saya setelah jam makan siang. Apakah ada urusan yang mendesak, pak?’  tanyaku penasaran.

Sebab, tugas writer intern hanyalah seputar artikel yang dibuat. Jikapun ada rapat, jarang sekali melakukan rapat besar yang melibatkan seluruh tim inti redaksi.

“Nanti saya jelaskan. Pokoknya kamu saya minta kamu datang sebelum jam sembilan ya. Saya tunggu di meeting room lantai 21!”

Aku menutup telepon dengan mengatakan kesanggupan ikut rapat bersama beliau. Apapun yang beliau perintahkan, kami sebagai anak buahnya tidak boleh asal menolak perintahnya tanpa sempat memberikan alasan.

Sepuluh menit sejak pak Edwin menutup telepon, waktu lima belas menit yang kupunya sebelumnya hanyalah sebatas fatamorgana. Lantas, aku terburu-buru lompat dari tempat tidur, memasukkan notes ke dalam totte bag dan juga laptop milik kantor yang tak pernah kukeluarkan dari dalam tas.

Berpergian menuju kantor dengan naik kereta sebagai alat transportasi di hari senin bukanlah pilihan yang tepat. Pemandangan para manusia yang berlomba mencari celah agar mendapatkan gerbong keberangkatan pagi sungguh melelahkan. Mereka berjuang demi mengais rejeki setiap hari dengan rela berdiri di gerbong kereta sepanjang perjalanan.

Di waktu yang bersamaan, mobil berwarna hitam terparkir di depan rumah ketika aku hendak mengencangkan tali sepatu sneakers agar tidak mudah tersandung.

“Udah mau berangkat ya, rin? Gue anter ya sekalian,” kata Felix sembari membuka pintu mobil, lalu membiarkanku ikut bergabung dengannya.

Pertemanan antara aku dan Felix tidak perlu diragukan lagi. Bila dihitung dengan jari, kami telah menjalin pertemanan selama tujuh tahun lamanya dimana kami sudah berbagi dan mengalami banyak hal berdua. Itu semua berkat semesta yang menakdirkan kami untuk tinggal di komplek yang sama, hanya berbeda di blok saja.

Baca Juga:  Arim The Dreamer of Good Future

Saking dekatnya hubunganku dan Felix, tidak membuat Felix bersikap gengsi untuk meluapkan emosi kesedihan setiap kali Ia patah hati. Kemudian, aku dan mama berinisiatif menghiburnya dengan cara membuatkan makan malam favoritnya. Kami juga kerap menonton serial netflix bersama di ruang tamu.

Rekan kerjaku, rekka, sering menyalahartikan pertemanan kami. Rekka menganggap bahwa istilah teman diantara laki-laki dan perempuan itu sangat mustahil terjadi. Apalagi menjalin hubungan pertemanan yang cukup lama bisa mengundang perasaan tidak terduga oleh salah satu pihak. Menurutnya, kemungkinan besar Felix menyimpan perasaan lain untukku.

Hal ini dibuktikan dengan seberapa intens pertemuan kami dan melakukan banyak aktivitas bersama. Juga, Felix pernah dipergoki oleh rekan kantorku datang menjemputku di acara dinner bersama tim lainnya.

Namun, bagiku, Felix tidak lain hanya sebatas sahabat yang mengetahui banyak hal tentang diriku. Dan aku menghindari yang berkaitan dengan perasaan karna aku takut akan merusak pertemanan yang sudah kami pupuk dari lama.

Tepat pukul setegah delapan, kami berhasil menembus jalanan yang macet dan mobil Felix berhenti didepan pintu lobby utama. Semua berkat laki-laki berumur dua puluh enam tahun ini.

“Makasih banyak, Felix. Kalau nggak ada lo nasib gue bakal gimana ya?”

Kami mengakhiri percakapan kami dengan kepalan tangan yang membentuk tinju, lalu, menyatukan kedua kepalan tangan bersama.

Sesuai dengan perintah Pak Edwin yang menyuruhku ikut meeting besar bersama seluruh tim inti redaksi, aku telah tiba di kantor dan segera meluncur ke lantai 21 menggunakan lift yang sudah mulai dimasuki secara bergantian oleh para karyawan yang lain. Karena aku masih memiliki sisa waktu tiga puluh menit sebelum menemuinya di meeting room, aku mampir sejenak ke pantry yang letaknya tidak jauh dari sana.

Kantor kami memiliki berbagai ruangan yang lengkap sesuai fungsinya, termasuk pantry. Pantry adalah bagian ruangan favorit kami yang sekedar ingin bersantai, berkumpul, atau mengisi perut yang kosong akibat belum sempat sarapan. Atau, bahkan sekedar ingin pamer ke warga pengguna instagram betapa kekinian pantry yang kami miliki. Selain memfasilitasi pantry yang berdesain semi outdoor, kami dapat mengambil sesuka hati snack dan makanan lainnya yang terpajang di rak kayu.

Aku menyantap roti panggang berselai kacang dan taburan coklat diatasnya yang sejak tadi menggugah selera. Saat sedang menyelesaikan roti yang terisi penuh didalam mulut, tak lama kemudian pak Edwin kembali menelpon dan memintaku segera menemuinya. Secepat mungkin aku menghabiskan air mineral guna menetralkan tenggorokan karena tersedak kaget.

Baca Juga:  Arim The Dreamer of Good Future

“Claryn, saya ingin bicara.”

Beliau mempersilahkanku duduk begitu melihat wujudku menyembul dibalik pintu kaca transparan.

Tanpa basa-basi, beliau menjelaskan mengenai berita baik yang ingin dia sampaikan padaku terlebih dahulu agar aku tidak terlalu shock. 

Bukan, bukan mengenai aku dipecat karena penilaian kinerjaku yang jelek. Melainkan, bagian divisi Human Resources berencana akan mempromosikan diriku sebagai karyawan tetap.

Aku berteriak histeris mendengar kabar baik ini. Disusul dengan ucapan selamat dari pak Edwin yang membuatku benar-benar bahagia di pagi ini.

Nampaknya, kalimat Too much of something is bad enough, yang dilantunkan oleh grup musik yang pernah berjaya pada era 90an, Spice girls, secara tidak langsung kembali menyadarkanku untuk tidak bereaksi kebahagiaan secara berlebihan.

Kesempatan emas memang terbuka lebar untukku yang ingin mengepakkan sayap lebih tinggi. Namun, menyentuh langit pun bukanlah perkara mudah. Ada sebuah panjatan tinggi yang harus kulalui sebelum terbang bebas layaknya merpati.

Rapat kerja bersama jajaran besar redaksi kini berada di depan mata. Untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya berada diruangan yang sama dengan mereka, para senior hebat, yang telah mendedikasikan diri mereka untuk perusahaan selama bertahun-tahun.

Kami semua duduk dengan pola kursi yang melingkar membentuk huruf U. Pak Edwin, sebagai seseorang yang memiliki pangkat tertinggi di divisi ini, memperkenalkanku sebagai writer intern, dibawah pengawasannya,  yang menurutnya selama ini aku sangat memiliki semangat yang besar, meskipun harus menghadapi tuntutan yang tinggi di lingkungan kerja.

Kemudian, tibalah intisari rapat kerja yang diadakan pagi ini. Aku diberi tantangan sebagai syaratku naik level, yaitu, mewawancarai keluarga Hadinata secara esklusif, yang terkenal sangat kaya raya sebagai pemilik perusahaan tersukses se-Asia Tenggara. Sayangnya, akan sulit dilakukan mengingat keluarga tersebut sangat jarang tereskpos oleh media.

Dan pak Edwin menaruh harapan besar  mengenai hal ini padaku. Selain menjadi taruhan untukku mendapatkan posisi yang aku dambakan, hal ini juga sebagai statregi perusahaan dalam memenangkan perita pertama di bidang Industri media.

—BERSAMBUNG—

Author: Della Devia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *