Eksistensi Perempuan Merdeka dalam Lingkup Pernikahan

Sebelum kita masuk ke topik pembahasan, mari kita refleksikan terlebih dahulu mengenai masalah gender. Bagaimana cara kita menyikapi perbedaan gender? Apakah laki-laki adalah makhluk yang lebih superior dari perempuan ? Apakah perempuan tidak bisa menjadi perkasa ? Atau apakah perempuan tidak menyadari eksistensinya dan terus berada dalam lingkaran kebodohan ? Apakah selamanya perempuan lemah atau inferior ? Lalu, bagaimana hubungannya dengan cinta ?.

Advertisements

Sudah saatnya evolusi filosofis ini digalakkan supaya kerangka berpikir ini terus dilakukan agar perempuan memahami keberadaannya. Hendaknya perempuan mampu melepaskan diri dari belenggu kejahatan patriarkis yang mentradisi, kebodohan yang berkesinambungan, dan sebuah cinta yang begitu munafik.

Perempuan yang dicita-citakan sesungguhnya adalah mereka yang mampu berpikir anarkis dan bertindak humanis. keduanya relevan hingga perempuan sudah punya dan memahami rasa cinta dan merdeka dalam dirinya.

Untuk menghindari pemahaman yang rancu, dikutip dalam bukunya Emma Goldman halaman 50 dan 53 yang berjudul Anarkisme. Anarkisme dipahami sebagai “sebuah filosofi tatanan sosial baru berdasarkan pada kebebasan yang tidak dibatasi oleh hukum buatan manusia”.

Dalam hal ini, anarkisme dapat dipahami sebagai metode berpikir yang bebas dan radikal dalam mencapai suatu pemikiran. Sedangkan humanisme dapat dipahami sebagai gerakan yang menjunjung tinggi keutamaan manusia yang berbudi luhur, yakni kebaikan hati, kebebasan hati, wawasan yang luas, dan bersifat universial.

Baca Juga:  Menggugat “Ikhtiar Merawat Nalar” IMM DKI Jakarta
Advertisements

Dewi anarki dan humanis ini menjadikan mereka memilih merdeka serta memiliki cinta dalam setiap tindakannya. Didasari pada kebijakan berpikir, ketulusan hati dan tidak mengenal pamrih, seperti halnya seorang perempuan memilih untuk merdeka. Perempuan seharusnya mengenali eksistensinya untuk bisa berpikir cerdik, melepaskan diri dari ketidakadilan patriarkis, tidak lagi lemah, takut atau bisu dalam setiap tindakan maupun pemikirannya. Perempuan juga memiliki hak untuk menentukan “ya” atau “tidak”-nya dalam memutuskan setiap tindakan. Lalu bagaimana perempuan yang masih bisa menjamin kemerdekaan dan cinta?

Pernikahan seringkali memberikan ilusi optik. Pernikahan bukanlah suatu yang diidamkan, yang membebaskan mereka dari segi batiniah maupun lahiriah. Bahkan, pernikahan ini merupakan kasus perbudakan yang membelenggu dan mengikat dengan jaminan asuransi, ekonomi, kesehatan, dan keperluan lahiriah.

Sebaimana Emma Goldman menyampaikan dalam bukunya pada halaman 232 bahwa “Keutamaan pernikahan adalah sebuah perjanjian ekonomi, sebuah perjanjian asuransi. Ia berbeda karena lebih mengikat dan ribet. Untuk mendapatkan jaminan itu, seseorang harus membayarnya dengan jumlah tertentu, dan selanjutnya dengan bebas untuk tidak melanjutkan pembayaran setelah perkawinan. Premium sang perempuan adalah suami. Perempuan akan membayarnya dengan namanya sendiri, hal-hal privat miliknya, harga diri, seluruh kehidupannya hingga pada kematiannya”.

Baca Juga:  RUU Kesehatan tentang STR Belaku Seumur Hidup Bantu Kesejahteraan Nakes?

Pada masa kanak-kanak, kita sudah terbelenggu dengan doktrin yang mentradisi bahwa pernikahan adalah suatu cita-cita yang sempurna. tetapi kita tak pernah diajarkan secara mentradisi ketika menikah. Kita akan jatuh dalam jurang komoditas sex patriarki yang mentradisi, sehingga seorang akan mengalami dependensi. Lembaga pernikahan, janji suci tidak lain pintu awal yang menjadikan perempuan inferior dan kehilangan jati dirinya.

Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan pernikahan lalu menindasnya dengan pekerjaan kasar seumur hidup. Dan lelaki menertawakan istri-istri mereka karena telah jatuh begitu rendah untuk dirinya. Maka dari itu, pernikahan adalah sebuah bentuk kejahatan.

Kita dapat mengetahui bahwa semua kaum lelaki mempunyai otak yang pintar dan cerdas, dan sebagai perempuan yang berpikir cerdik, mestinya dua kali lebih pintar dan cerdas dari semua lelaki, “kita harusnya menikah dengan laki-laki macam apa?”.

Kalau seorang perempuan berpikir cerdik, maka seharusnya ia berpikir dua kali bagaimana caranya mencapai suatu pernikahan yang berhasil. hari ini, ribuan ibu dan anak yang terlantar dan kelaparan? Kenapa sampai hari ini kita masih melihat perempuan-perempuan yang masih mengalami kesengsaraan, penderitaan, dan kekerasan fisik yang tiada henti? Dan kenapa sampai hari ini kita masih melihat kasus perceraian yang tiap hari angka-angkanya selalu menaik? Sekarang kita bisa melihat, bukan? Janji-janji cinta cuma kemunafikan besar.

Cinta sebagai unsur yang mengakar kuat, bebas dan sempurna. Ia mendalam, mengarungi dalam semua kehidupan dan penuh harapan. Membangkitkan gairah dan takdir manusia untuk mencapai keadilan dan kebebasannya yang mutlak. Selama kita sadar menjadi humanis, selama itu pula kita memahami hakihat cinta. Selama kita sadar akan cinta, selama itu pula penderitaan, perbudakan, kesengsaraan, kelaparan, dan perceraian perlahan akan sirna. Semua orang membutuhkan dan mengemis cinta. Karena cinta tak mengenal pamrih dan tak membutuhkan bayaran. Sikap kemanusiaan itu lahir dan tumbuh begitu saja. Ia hanya ingin melihat semua berbahagia karenanya, mencapai kehidupan yang sempurna dan sederhana. Yang dibuktikan hari ini adalah bukan pengakuan pernikahan atau cinta, tapi bagaimana caranya untuk memanusiakan cinta. Dan sampai saat ini kita selalu buta mengenal cinta, seringkali kita mengagungkan hipokritnya cinta. Selama lelaki dan perempuan masih belum terbuka dan sadar akan eksistensinya sebagai manusia, maka sampai hari ini mereka masih belum memahami dan mengenal cinta. Karena manusia sesungguhnya adalah mereka yang memahami dan mengenal cinta yang murni. Dan perempuan yang merdeka adalah mereka yang punya cinta, memahami cinta, dan mengerti hakikat cinta yang murni.
Terakhir dari saya, kalau perkembangan feminisme masih tak bisa digalakkan, maka bersiaplah untuk menghadapi revolusi-filosofis peremuan yang idealis, adil dan konkret, bukan lagi mimpi-mimpi bisu yang imajinatif.

Baca Juga:  Dinamika Pembangunan Stadion Bertaraf Internasional “Jakarta Internasional Stadium”

Azhar Azizah;
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Studi Agama-Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *