Faisal Basri Tuding Adanya Kebocoran Ekspor Bijih Nikel Ke Tiongkok, Refly Harun: Ini Soal yang Misterius

LONCENGNEWS.COM – Ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengendus adanya kerugian negara hingga ratusan triliun yang disebabkan oleh bocornya ekspor bijih nikel di Indonesia.

Advertisements

Tudingan kebocoran ekspor bijih nikel itu terungkap usai Faisal Basri membeberkan hasil temuan dalam laporan General Customs Administration of China (GCAC).

Faisal Basri mengatakan bahwa laporan itu mengklaim terdapat 3,4 juta ton bijih nikel telah diekspor ke China, dengan nilai transaksi ekspor menembus angka USD 193,6 juta atau setara dengan Rp2,8 triliun.

Baca Juga:  Mahfud MD Sebut Istilah Kriminalisasi ulama atau Ustaz Salah: Jangan Terprovokasi

Padahal, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) sama sekali tidak mencatat adanya kegiatan ekspor bijih benih di tahun 2020.

Hal ini dikarenakan pemerintah secara tegas menutup pintu kegiatan ekspor bijih nikel sejak tahun lalu.

Advertisements

Adanya perbedaan data yang tercatat dalam laporan BPS dengan laporan GCAC tahun 2020 itu tentu menyedot perhatian publik.

Salah satunya datang dari pakar hukum tata negara Refly Harun yang ikut mempertanyakan atas kejanggalan polemik kebocoran ekspor bijih nikel tersebut melalui Kanal Youtube Refly Harun pada Kamis, 14 Oktober 2021.

Baca Juga:  Haris Azhar Enggan Lapor Balik, Hanya Minta Luhut Buktikan Omongannya

“Ini soal yang lagi-lagi misterius, bagaimana mungkin ada larangan ekspor bijih nikel di Indonesia 2020, tapi justru China masih mencatat adanya impor bijih nikel dari Indonesia dengan nilai sebesar Rp2,8 triliun,” ujar Refly Harun, seperti dikutip Loncengnews.com dari Kanal Youtube Refly Harun.

Refly Harun pun menyinggung pernyataan Faisal Basri mengenai adanya kemungkinan hak istimewa (priviliese) yang dimiliki oleh perusahaan smelter di Indonesia yang berafilisasi dengan pihak Tiongkok guna melakukan kegiatan ekspor bijih nikel ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

Lebih lanjut, Refly Harun juga menyoroti tudingan sang ekonom senior mengenai China yang disebut telah mengantongi keuntungan sebesar 90 persen atas ekspor bijih nikel tersebut.

Baca Juga:  KPK Ajukan Banding Atas Vonis 14 Tahun Penjara Rafael Alun, Ini Alasannya

Sementara, Kepala BPS Margo Yuwono telah memberikan bantahan terkait isu bocornya ekspor bijih nikel ke Tiongkok tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Margo Yuwono dalam konferensi pers secara daring pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Margo Yuwono mengklarifikasikan bahwa tidak adanya kegiatan ekspor bijih nikel ke Tiongkok pada tahun 2020 lalu , seperti yang dituding oleh Faisal Basri.

“Dari rilis kamu pada tahun 2020 bahwa ekspor bijih nikel ke Tiongkok angkanya nol atau nihil,” ujar Margo Yuwono. (KY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *