Ibu Kota Baru dan Potensi Deforestasi Hutan Kalimantan

Kalimantan telah ditetapkan menjadi lokasi untuk perpindahan Ibu Kota Negara (IKN). Kalimantan dikatakan sebagai wilayah yang sangat cocok dijadikan Ibu Kota baru untuk menggantikan DKI Jakarta yang kian dikatakan makin padat nan sesak. Ketersediaan lahan yang melimpah serta potensi bencana yang minim menjadi dua alasan yang paling mendukung Kalimantan ditunjuk sebagai lokasi pembangunan Ibu Kota Negara yang baru. Berangkat dari lokasi yang cukup strategis dari Kalimantan mengantarkan Pemerintah menunjuk Kalimantan sebagai Ibu Kota Negara dan telah ditetapkan.

Advertisements

Regulasi tentang pemindahan Ibu Kota atau yang disebut dengan RUU IKN yang dibahas secara kebut-kebutan telah disahkan oleh DPR pada sidang Paripurna kemarin yang disetujui oleh semua fraksi kecuali fraksi PKS. Pemerintah juga sudah menetapkan nama untuk Ibu Kota baru yang berada di Kalimantan Timur dengan nama “NUSANTARA”. Proyek Ibu Kota baru ini akan menghabiskan amggaran kurang lebih 466 triliyun Rupiah, dimana sebagian anggaran akan diambil dari APBN dan sebagian lagi akan dibantu oleh swasta dan BUMN. Ibu Kota baru ini banyak sekali mendapat perhatian masyarakat Indonesia, ada yang setuju dengan pemindahan Ibu Kota ini dan juga ada yang tidak setuju akan hal tersebut.

Baca Juga:  Demokrasi dengan Amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila

Berdasarkan laporan dari salah satu organisasi non-pemerintah (non-governmental organization/NGO), World Wide Fund (WWF) tahun 2017, hutan di Kalimantan masuk ke dalam salah satu paru-paru terbesar di dunia. Luas dari hutan Kalimantan mencapai 40,8 juta hektare. Hutan seluas itu menjadi rumah bagi 6% dari flora dan fauna dunia. Ada pula satwa unik, seperti Orang utan yang bergantung pada hutan sebagai satu-satunya habitat hidup alaminya. Kondisi geografi Kalimantan menunjukkan bahwa hutan yang ada di kawasan Kalimantan telah menjadi Habitat bagi flora dan fauna serta satwa yang hampir punah. Tak hanya untuk flora dan fauna, hutan di Kalimantan juga mencari penyumbang oksigen yang sangat banyak tak hanya bagi Indonesia tapi juga bagi Negara-negara tetangga seperti Singapura.

Baca Juga:  Melalui Ubudiah Manusia Bisa Mencapai Makrifatullah

kondisi dari hutan Kalimantan semakin prihatin seiring dengan banyaknya pengalihan fungsi lahan sehingga terjadi deforestasi yang cukup masif. Fungsi hutan yang juga sebagai habitat dan penyuplai oksigen juga perlahan terus berkurang dan berada pada kondisi yang cukup memprihatinkan. Hutan Kalimantan yang dulunya menjadi hutan lindung untuk satwa liar mengalami degradasi fungsi akibat maraknya deforestasi. Sayangnya, akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, dan tambang, WWF memperkirakan Kalimantan akan kehilangan 75% hutan pada tahun 2020. Dengan persentase yang cukup tinggi dari kehilangan lahan, maka penurunan fungsi hutan Kalimantan harus mendapatkan perhatian tersendiri, baik dari masyarakat, para aktivis lingkungan dan khususnya pemerintah.

Berdasarkan Peta Kawasan Konservasi di Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kawasan Bukit Soeharto merupakan salah satu dari 28 Taman Hutan Raya yang ada di Indonesia. Luas Bukit Soeharto sendiri saat ini diperkirakan mencapai 60.000 hektare, yang mana dikatakan sangat cukup untuk membangun Ibu Kota baru. Luas yang 60.000 Hektare akan terus mengalami penurunan seiring dengan pembangunan Ibu Kota Negara seluas ribuan Hektare dan tentu akan mengurangi luas hutan Kalimantan dalam jumlah yang cukup tinggi. Tak hanya pembangunan Ibu Kota Negara, seiring dengan perkembangan pembangunan nantinya, pasti akan disusul oleh berbagai pembangunan yang akan hadir di sekitar lokasi Ibu Kota Negara. Dengan begitu, tentu bukan tidak mungkin kedepan kawasan hutan Kalimantan akan terus berkurang dan deforestasi akan terus menggalak disekitaran Ibu Kota Negara. Dengan memperhatikan aspek-aspek potensi kerusakan lingkungan harusnya Pemerintah bisa mengkaji kembali rencana pembangunan Ibu Kota Negara yang mengorbankan salah satu hutan yang dikatakan sebagai salah satu paru-paru dunia dan banyak orang maupun flora dan fauna yang bergantung didalamnya.

Baca Juga:  Santri Enterpreneur dan Industri Kosmetik Tradisional Halal di Era 4.0
Advertisements

 

Oleh: Oleh: Ilzam Thoriq Robbany

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *