Melalui Ubudiah Manusia Bisa Mencapai Makrifatullah

Manusia diciptikan di muka bumi ini berfungsi sebagai khalifah. Khalifah dalam arti sebagai wakil Tuhan yang menjalankan tugas-tugas Ilahi di muka bumi. Visinya tidak lain kecuali untuk beribadah (berubudiyah) kepada Allah.

Advertisements

Badiuzzaman Said Nursi dalam karyanya mengemukakan (Iman Kunci Kesempurnaan), bahawa manusia diutus ke dunia sebagai tamu dan petugas. Ia diberi sejumlah bakat dan potensi yang sangat penting. Karena itu, ia juga diberi berbagai tugas penting. Agar manusia dapat menunaikan tugasnya dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuannya, ia diberi motivasi dan ancaman.

Di sini kami akan menjelaskan secara global sejumlah tugas manusia berikut landasan ubudiahnya. Hal itu agar rahasia ahsanu taqwîm dapat dipahami, maka kami tegaskan bahwa setelah datang ke dunia ini, manusia memiliki ubudiah dari dua sisi:
Sisi pertama: ubudiah dan tafakkur secara gaib (tidak langsung).

Sisi kedua: ubudiah dan munajat dalam bentuk dialog dan komunikasi langsung.
Sisi pertama berupa sikap membenarkan disertai ketaatan terhadap kekuasaan rububiyah yang terlihat di alam ini serta melihat kesempurnaan dan keindahan-Nya dengan penuh takjub.

Baca Juga:  Ibu Kota Baru dan Potensi Deforestasi Hutan Kalimantan

Kemudian sikap mengambil pelajaran dari keindahan goresan Asmaul Husna yang suci serta menyerukan dan memperlihatkannya kepada pandangan sesama makhluk. Lalu menimbang permata dan mutiara nama-nama tersebut—sebagai kekayaan maknawi yang tersembunyi—dengan timbangan pengetahuan sekaligus menghargainya dengan penuh rasa hormat yang bersumber dari kalbu.

Advertisements

Setelah itu, bertafakkur dengan penuh takjub di saat menelaah lembaran bumi dan langit serta seluruh entitas yang laksana tulisan pena qudrah. Selanjutnya, mengamati hiasan entitas dan kreasi indah dan halus yang terdapat di dalamnya, merasa senang untuk mengenal Pencipta Yang Maha indah, dan merasa rindu untuk naik ke tingkatan hudhûr (hadir) di sisi Sang Pencipta Yang Maha sempurna sekaligus mendapat tatapan-Nya.

Sisi kedua adalah tingkatan hudhûr (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat.

Baca Juga:  Positif Thinking: Antara Spirit Keimanan dan Keislaman

Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.

Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, “Allahu akbar, Subhânallah” secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh.

Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.

Baca Juga:  Perayaan Maulid Nabi: Momentum Meneladani Sikap Toleransi Nabi Muhammad

Maka, ia menyikapinya lewat ucapan mâsyâ Allah sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan bârakallah sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan subhânallah sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan Allahu akbar sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya.

Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan rububiyah-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai ahsanu taqwîm. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.

 

Penulis: Moh. Bakir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *