Terapkan Pluralisme, Universitas Muhammadiyah Papua Sebut Mahasiswanya 90 Persen Non Muslim

 

LONCENG NEWS – Sebagai sebuah organisasi keagamaan yang berbasis nilai-nilai keislaman, Muhammadiyah tidak pernah melupakan esensi ajaran Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kesetaraan.

Advertisements

Dengan komitmen pada kemanusiaan universal sekaligus menolak segala bentuk diskriminasi, Muhammadiyah telah melakukan gerakan sosial dan amal yang dapat dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang ras dan agama.

Salah satu contohnya adalah Universitas Muhammadiyah (UM) Papua, kampus milik ormas Muhammadiyah tersebut menerima putra-putra Papua yang notabene non muslim untuk tetap bisa menimba ilmu dan mengakses pelajaran.

Baca Juga:  IMM Cabang Ciputat Tak Setuju Wacana Presiden 3 Periode, Mizan: Merusak Demokrasi

Universitas Muhammadiyah Papua diresmikan pada Jumat, 23 Oktober 2020 lalu, Wakil Rektor Bidang Akademik UM Papua, Indah Sulistiani menjelaskan bahwa UM Papua tetap berpegang teguh dengan prinsip identitas Muhammadiyah yang inklusif.

“Mahasiswa kami hampir 90 persen merupakan putra asli Papua sehingga ini merupakan hal yang patut dibanggakan dalam pluralisme yang ada,” kata Indah Sulistiani yang dikutip dari situs resmi Muhammadiyah pada Senin, 10 Mei 2021.

Advertisements

Saat kampus UM dibuka, mahasiswa angkatan pertama di universitas tersebut berjumlah kurang lebih 300 orang dan kebanyakan adalah warga asli Papua yang notabene adalah non-muslim.

Baca Juga:  Menggugat “Ikhtiar Merawat Nalar” IMM DKI Jakarta

Namun Indah tetap optimis bahwa tidak ada kendala sama sekali dalam proses belajar-mengajar sebab universitas yang terletak di Sorong, Papua Barat tersebut telah memberi manfaat dan dapat dipergunakan dengan baik oleh masyarakat setempat yang non-muslim.

Ermelinda A Hale, seorang biarawati alumni UM Papua yang lulus pada Desember 2020 lalu menuturkan rasa syukurnya atas kehadiran universitas yang dibangun oleh Muhammadiyah di provinsi tersebut.

Ermelinda mengungkapkan bahwa selama ia berkuliah di sana, terdapat kerja sama yang baik antara dosen dan mahasiswa sehingga tak menyulitkan warga Papua yang belajar di kampus UM Papua.

“Saya merasa senang dan bersyukur karena di dalam perkuliahan ini kami saling mendukung, membantu,” ungkap Ermelinda.

Baca Juga:  Peluang dan Tantangan Pemilu Serentak 2024, Apakah E-voting Menjadi Solusi?

Tanpa memandang perbedaan, UM Papua tetap berkomitmen untuk menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas dan mampu mengembangkan potensi mahasiswa.

UM Papua 100 persen mendukung kreativitas, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswanya.

UM Papua juga menyesuaikan kurikulumnya dengan program pemerintah, selain itu UM Papua juga mengakomodir dan mengembangkan budaya lokal Papua.

“Kaitannya dengan kearifan lokal yang ada di Papua, hal tersebut menjadi salah satu faktor budaya yang dipertahankan,” ujarnya.

Diketahui, UM Papua membuka tujuh program studi (produ) untuk tingkat Strata 1 (S1) dan D3 dengan kuota prodi sebanyak 50 orang, ketujuh prodi itu adalah Psikologi, Kewirausahaan, Komunikasi, Hukum, Komputer, Lingkungan, dan D3 kehumasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *