Ternyata Ini Alasan Ganjar-Mahfud Kalah di Kandang PDIP, Gara-gara Jokowi?

LONCENGNEWS.COM – Pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menempati urutan ketiga perolehan suara dari hasil quick count atau hitung cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei, begitu juga hasil real count yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Advertisements

Berdasarkan Litbang Kompas, pada Sabtu, 17 Februari 2024 pukul 12:14 WIB dengan sampel masuk 99.80 persen, perolehan suara Ganjar-Mahfud MD masih berada di urutan ketiga, sebesar 16.31 persen.

Sementara, hasil real count KPU di hari yang sama, pukul 13:44 WIB dengan sampel masuk sebanyak 64.90 persen, paslon yang didukung oleh PDIP, PPP, Perindo, dan Hanura ini juga konsistensi berada di urutan ketiga dengan perolehan sebesar 17.91 persen suara.

Baca Juga:  Juliari Didakwa Terima Suap Rp32,482 Miliar Tapi Tidak Ajukan Eksepsi, Benny Harman Malah Heran dan Bilang Begini

Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan perolehan suara PDIP pada pemilihan legislatif (pileg). Partai berlogo kepala banteng ini kokoh berada di urutan pertama berdasarkan hasil quick count dari setiap lembaga survei, dengan kisaran 16 hingga 17 persen suara.

Rendahnya perolehan Ganjar-Mahfud terjadi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di lumbung suara PDIP sendiri, seperti di Jawa Tengah (Jateng), Bali, NTT dan di daerah lainnya.

Advertisements

Bagaimana bisa, PDIP yang merupakan partai ideologis dengan kader yang loyal dan militan dari tingkat pusat hingga daerah itu kehilangan suara di kandang sendiri?

Peneliti Litbang Kompas, Yohan Wahyu membeberkan beberapa pemicu yang menyebabkan suara Ganjar-Mahfud tumbang di lumbung partai pendukung utamanya. Menurut Yohan, salah satu pemicunya adalah merosotnya tingkat loyalitas pemilih terhadap partai yang digawangi Megawati Soekarno Putri itu.

Baca Juga:  Peringati Hari Buruh Internasional, Ketua DPR RI Minta Pengusaha Bayar THR Penuh dan Tepat Waktu

Berdasarkan survei yang dilakukan Litbang Kompas setelah pencoblosan pada 14 Februari lalu, tingkat loyalitas pemilih PDIP berada di angka 47,2 persen.

“Angka ini relatif menurun jika dibandingkan dengan rata-rata loyalitas yang terbaca dalam survei-survei sebelum pemilu, yakni berada di atas angka 70 persen,” kata Yohan dikutip dari lama Kompas Id pada Sabtu (17/2/2024).

Menurut Yohan, penurunan loyalitas pemilih PDIP itu bukan tanpa alasan, melainkan karena renggangnya hubungan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan PDIP yang terjadi sejak sebelum pilpres 2024.

“Ini tentu tidak lepas dari fakta lapangan, di mana terjadi perubahan konfigurasi politik di Pemilihan Presiden 2024, yakni pecah kongsinya Presiden Joko Widodo yang merupakan kader PDIP dengan kebijakan dan langkah politik PDIP di pemilihan presiden,” ungkapnya.

Baca Juga:  Juliari Batubara Terima Suap Rp32,482 Miliar, Ternyata 11 Pejabat Kemensos Ini Juga Nikmati Uang Korupsi Bansos

Bagi Yohan, retaknya hubungan antar keduanya memiliki pengaruh buruk terhadap daya elektoral PDIP, sehingga masyarakat yang memilih PDIP pada pemilu sebelumnya bergeser memilih partai lain.

Selain itu, Yohan menilai, rendahnya perolehan suara Ganjar-Mahfud di lumbung PDIP menandakan bahwa pasangan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh para pemilih PDIP.

“Figur Ganjar-Mahfud belum sepenuhnya diterima oleh pemilih PDIP. Lagi-lagi pengaruh Jokowi turut menjadi faktor yang sedikit banyak memecah dukungan pemilih PDIP untuk cenderung mengikuti langkah politik Jokowi,” tuturnya.

Pada sisi lainnya, kata Yohan, faktor Jokowi justru menjadi penentu menangnya paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang disebut mendapat dukungan dari presiden.

“Seperti halnya temuan dari survei pascapencoblosan ini yang menyatakan bahwa faktor ”Jokowi” terbukti turut menjadi penentu unggulnya pasangan Prabowo-Gibran yang terekam dari hasil hitung cepat Litbang Kompas,” pungkasnya.